Jumat, 14 April 2023

Koneksi Antarmateri Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin

 

Koneksi Antar Materi Modul 3.1

Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin

 

Oleh :

Widodo

Guru SMP Negeri 1 Sidoharjo

Calon Guru Penggerak Angkatan 7 Kabupaten Wonogiri

 

 

1.  Kaitan antara filosofi Ki Hadjar Dewantara dengan Patrap Triloka tentang penerapan pengambilan keputusan sebagai seprang pemimpin

Ki Hadjar Dewantara adalah Bapak Pendidikan Indonesia yang terkenal dengan konsepnya tentang "Patrap Triloka".  Konsep ini merupakan pandangan tentang tiga dunia yang terdiri dari dunia material (jagat raya), dunia sosial (manusia) dan dunia batin (alam pikiran). Dalam penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin, filosofi Ki Hadjar Dewantara tentang Patrap Triloka dapat memberikan pandangan yang holistik dan komprehensif. Seorang pemimpin harus mampu mempertimbangkan kepentingan dari ketiga dunia ini dalam pengambilan keputusan. (1) Pemimpin harus mempertimbangkan dampak keputusan yang akan diambil pada dunia, (2) Pemimpin harus mempertimbangkan dampak keputusan pada dunia sosial atau manusia. (3) Keputusan yang diambil harus memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, termasuk di dalamnya hak-hak individu dan kelompok minoritas.

Pemimpin juga harus mempertimbangkan dampak keputusan pada dunia batin atau alam pikiran. Keputusan yang diambil harus sesuai dengan nilai-nilai moral dan etika yang dianut oleh masyarakat, serta mempertimbangkan kepentingan spiritual dan psikologis individu.

Dalam keseluruhan pandangan “Patrap Triloka”, Ki Hadjar Dewantara menekankan pentingnya keseimbangan antara ketiga dunia ini. Oleh karena itu, sebagai seorang pemimpin, keputusan yang diambil harus memperhitungkan dampaknya pada ketiga dunia ini secara seimbang dan proporsional.

 

2. Pengaruh nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita terhadap prinsip-prinsip dalam pengambilan suatu keputusan.

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri seseorang sangat mempengaruhi prinsip pengambilan suatu keputusan. Nilai-nilai membantu seseorang untuk menentukan tujuan, mempertimbangkan berbagai faktor yang terlibat, dan memilih tindakan yang konsisten sesuai dengan prinsip-prinsip moral dan etika. Oleh karena itu, penting bagi seorang pemimpin untuk memperhatikan nilai-nilai yang dimilikinya dalam pengambilan keputusan ang efektif dan bertanggung jawab. Pemimpin yang memegang nilai-nilai etika dan moral yang tinggi cenderung akan memilih keputusan yang adil dan berpihak kepada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan dan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari keputusan yang diambil.

 

3.   Kaitan antara materi pengambilan keputusan dengan kegiatan coaching (bimbingan) yang diberikan oleh pendamping atau fasilitator dalam proses pembelajaran, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil.

Materi pengambilan keputusan dan coaching (bimbingan) terhadap pengambilan keputusan memiliki kaitan erat karena coaching dapat membantu coachee untuk mengembangkan keterampilan dan kemampuan dalam mengambil keputusan yang lebih baik dan lebih efektif.

Dalam konteks coaching, seorang coach akan membantu coachee untuk memahami proses pengambilan keputusan secara lebih baik, termasuk bagaimana mengumpulkan informasi yang relevan, menganalisis situasi dengan cermat, mengevaluasi pilihan-pilihan yang ada, dan memilih opsi terbaik yang memenuhi tujuan yang diinginkan.

Seorang coach juga dapat membantu coachee untuk mengidentifikasi nilai-nilai yang mendasari keputusan mereka dan memastikan bahwa keputusan tersebut konsisten dengan nilai-nilai tersebut. Selain itu, seorang coach dapat membantu individu atau tim untuk mengatasi hambatan atau kecenderungan yang dapat menghambat pengambilan keputusan yang efektif.

Coaching juga dapat membantu coachee untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam mengambil keputusan di lingkungan yang dinamis dan kompleks. Seorang coach dapat membantu coachee untuk memahami bagaimana mengelola risiko dan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan serta memperhitungkan faktor-faktor yang tidak terduga yang dapat mempengaruhi hasil dari keputusan tersebut.

Dalam coaching, seorang coach juga dapat membantu coachee untuk mengevaluasi hasil dari keputusan yang telah diambil, memperbaiki dan mengadaptasi keputusan tersebut jika diperlukan, dan belajar dari pengalaman tersebut untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam pengambilan keputusan di masa depan.

 

4.      Pengaruh kemampuan guru dalam mengelola  dan menyadari aspek social emosional terhadap pengambilan suatu keputusan  khususnya masalah dilema etika.

Kemampuan seorang guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan masalah dilema etika. Kemampuan ini akan membantu seorang guru dalam mengelola emosi dan stres, mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan yang mendasarinya, memahami kebutuhan dan perspektif murid, serta berkomunikasi dengan baik dengan pihak-pihak terkait. Semua kemampuan ini sangat penting dalam pengambilan keputusan yang efektif dan berdasarkan nilai-nilai kebajikan.

Selain itu, kemampuan sosial emosional juga dapat membantu seorang guru dalam mengidentifikasi dan memahami kebutuhan dan perspektif murid yang berbeda-beda. Dalam situasi dilema etika, seorang guru juga harus mampu berkomunikasi dengan baik dengan murid, rekan sejawat (guru lain), dan pihak-pihak lain yang terkait. Kemampuan komunikasi yang baik akan membantu seorang guru dalam memperoleh informasi yang diperlukan untuk pengambilan keputusan yang efektif dan memastikan bahwa keputusan yang diambil dapat diterima dan dimengerti oleh semua pihak yang terlibat.

 

5.      Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Seorang pendidik harus mampu menerapkan nilai-nilai yang dianutnya dalam pengambilan keputusan, membantu murid dalam  memahami dan menghargai nilai-nilai kebajikan, mengevaluasi dan memperbaiki praktik pembelajaran yang telah dilakukan. Semua ini merupakan bagian penting dalam membentuk karakter dan moral murid, serta menjadikan seorang pendidik sebagai contoh yang baik dalam hal moral dan etika.

 

6.      Dampak pengambilan keputusan yang tepat terhadap terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. Keputusan yang tepat akan membawa dampak positif bagi seluruh individu yang berada di lingkungan tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Selain itu, keputusan yang tepat juga dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan individu. Seorang pemimpin atau pendidik yang membuat keputusan yang tepat dalam mengelola lingkungan belajar dapat menciptakan atmosfer yang positif, memotivasi individu untuk belajar dengan lebih baik.

Keputusan yang tepat juga dapat membantu menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Oleh karena itu, penting bagi setiap pemimpin atau pendidik, untuk mempelajari teknik pengambilan keputusan yang tepat dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

7.      Tantangan-tantangan di lingkungan untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilemma etika dan keterkaitannya dengan perubahan paradigm di lingkungan saya.

Tantangan dalam menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus dilema etika bisa sangat kompleks dan memerlukan pemikiran yang mendalam. Hal ini terutama disebabkan oleh fakta bahwa dalam situasi dilema etika, keputusan yang diambil dapat memiliki dampak berpotensi merugikan salah satu atau beberapa pihak yang terlibat. Beberapa tantangan yang dapat dihadapi dalam menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus dilema etika antara lain:

  1. Keterbatasan informasi: Kadang-kadang informasi yang diperlukan untuk membuat keputusan yang tepat tidak lengkap atau tidak tersedia, sehingga pengambil keputusan harus membuat keputusan dengan mempertimbangkan informasi yang ada.
  2. Konflik nilai: Dalam dilema etika, terdapat konflik nilai antara nilai-nilai yang bertentangan atau berlawanan.
  3. Tekanan waktu: Dalam beberapa situasi, keputusan harus diambil dalam waktu yang sangat singkat, sehingga pengambil keputusan tidak memiliki banyak waktu untuk mempertimbangkan semua faktor yang relevan.
  4. Ketidakpastian: Dalam beberapa kasus, konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil tidak jelas, sehingga pengambil keputusan harus membuat keputusan dengan mendasarkan pada pemikiran dan pertimbangan yang masuk akal.

Semua tantangan di atas dapat berkaitan dengan paradigma pengambilan keputusan. Paradigma pengambilan keputusan yang digunakan oleh seseorang dapat mempengaruhi bagaimana mereka memproses informasi dan mempertimbangkan faktor-faktor yang relevan dalam membuat keputusan. Paradigma tersebut dapat berupa individu lawan kelopok, rasa keadian lawan rasa kasihan, kebenaran lawan kesetiaan dan jangka pendek lawan jangka panjang. Oleh karena itu, penting bagi pengambil keputusan untuk mempertimbangkan tantangan yang ada dan memilih paradigma pengambilan keputusan yang paling sesuai untuk situasi yang dihadapi.

 

8.      Pengaruh pengambilan keputuan dengan pengajaran yang memerdekakan murid

Pengambilan keputusan dalam pengajaran yang memerdekakan murid sangat penting, karena hal tersebut memungkinkan murid untuk mengembangkan potensi mereka secara optimal dan membuat mereka lebih aktif dalam pembelajaran. Pada dasarnya, pengajaran yang memerdekakan murid melibatkan pendekatan pembelajaran yang mengutamakan kebutuhan, minat, dan kemampuan setiap murid secara individu.

Dalam memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid yang berbeda-beda, ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, seperti:

a.       Kebutuhan dan minat murid

b.      Gaya belajar murid

c.       Kemampuan murid

d.      Materi dan kurikulum

Dalam memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid yang berbeda-beda, guru harus memperhatikan semua faktor tersebut dan mengambil keputusan yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan dan minat murid serta memastikan pembelajaran yang efektif. Selain itu, guru juga harus terbuka dan fleksibel terhadap perubahan dan penyesuaian agar dapat memperbaiki pengajaran mereka dan meningkatkan potensi murid secara optimal.

 

9.      Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya ?

Top of Form

Top of Form

Bottom of Form

Seorang pemimpin pembelajaran memiliki peran yang sangat penting dalam membantu murid memperoleh pendidikan yang berkualitas dan berdampak positif pada kehidupan dan masa depan mereka. Pemimpin pembelajaran harus mampu mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana dalam menyusun rencana pembelajaran yang baik dan berpihak kepada murid

Keputusan yang diambil oleh pemimpin pembelajaran dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid secara langsung dan tidak langsung. Selain itu, pemimpin pembelajaran juga harus mampu mengambil keputusan dalam hal manajemen kelas dan penyelesaian konflik di kelas. Keputusan yang tepat dalam hal ini dapat membantu murid merasa aman, nyaman, dan terlibat dalam proses belajar mereka, sehingga mereka dapat mencapai potensi terbaik mereka.

Lebih jauh lagi, keputusan yang diambil oleh pemimpin pembelajaran juga dapat mempengaruhi pengalaman belajar murid secara keseluruhan. Jika keputusan yang diambil tidak memenuhi kebutuhan dan minat murid, hal ini dapat memengaruhi motivasi dan partisipasi mereka dalam proses belajar. Sebaliknya, keputusan yang tepat dalam hal ini dapat membantu memotivasi dan melibatkan murid dalam pembelajaran, sehingga mereka berkembang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya.

Dalam hal ini, penting bagi pemimpin pembelajaran untuk mempertimbangkan konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil dan memastikan bahwa keputusan yang diambil sesuai dengan kebutuhan dan minat murid serta berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai. Dengan begitu, keputusan yang diambil oleh pemimpin pembelajaran dapat membantu membangun fondasi yang kuat bagi kehidupan dan masa depan murid.

 

10.  Kesimpulan yang dapat ditarik dari pembelajaran materi modul 3.1 dengan modul-modul sebelumnya.

Seorang guru penggerak dan pembelajaran yang berpihak pada murid harus memiliki visi yang jelas dan berorientasi pada tujuan untuk membantu murid mencapai potensi terbaik mereka. Dalam mencapai tujuan ini, seorang guru harus mampu mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana, dengan mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan. Melalui penerapan nilai-nilai kebajikan dalam proses pengambilan keputusan, seorang guru dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang positif, kondusif, aman, dan nyaman bagi murid. Hal ini dapat memotivasi murid untuk terlibat dalam proses belajar, meningkatkan keterampilan sosial dan emosional mereka, serta membantu mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan tertinggi.

Seorang guru penggerak dan pembelajaran yang berpihak pada murid juga harus mampu memahami kebutuhan dan minat siswa, serta mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi proses pembelajaran mereka. Dengan begitu, seorang guru dapat memilih pembelajaran yang tepat untuk potensi murid yang berbeda-beda.

Dalam keseluruhan, pembelajaran pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan dapat membantu seorang guru penggerak dan pembelajaran yang berpihak pada murid untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif dan efektif bagi murid. Hal ini dapat membantu meningkatkan hasil belajar dan menciptakan masa depan yang cerah bagi murid

 

11.  Pemahaman saya terhadap konsep-konsep dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Menurut saya dalam pengambilan keputusan terhadap kasus kasus dilema etika dan bujukan moral sesulit apapun keputusan yang harus diambil untuk permasalahan yang sama-sama benar, sebagai seorang pemimpin, kita perlu mendasarkan keputusan pada 3 unsur yaitu berpihak pada murid, berdasarkan nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari pengambian keputusan yang diambil.

Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini:

a.       Individu lawan kelompok (individual vs community)

b.      Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

c.       Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

d.      Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Ketika menghadapi pilihan-pilihan terkait dilema etika ada tiga prinsip yang dapat digunakan untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut, tersebut adalah:

a.       Berpikir Berbasis Hasil Akhir (End-Based Thinking)

b.      Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

c.       Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Sebagai panduan dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang akan diambil dalam situasi dilema etika ataupun bujukan moral yang membingungkan, ada 9 langkah yang dapat dilakukan :

a.       Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

b.      Menentukan siapa yang terlibat dalam kasus ini

c.       Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

d.      Pengujian benar atau salah

e.       Pengujian paradigm benar lawan benar

f.       Melakukan prinsip resolusi

g.      Investigasi Opsi Trilema

h.      Buat keputusan

i.        Lihat lagi keputusan dan refleksikan

 

12.  Pengalaman menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema

Sebelum mempelajari modul ini , saya pernah menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi dilema. Namun ada perbedaan dengan apa yang saya pelajari dalam modul ini.  Sebelumnya pengambilan keputusan saya cenderung mencari jalan tengah agar dapat diterima oleh semua pihak. Tanpa memperhatikan konsep dasar pengambilan keputusan, paradigm, prinsip dan sembulan langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

 

13.  Dampak mempelajari konsep pengambilan keputusan pada modul 3.1 terhadap cara pengambilan keputusan

Mempelajari konsep pengambilan keputusan berbasis nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap keputusan yang dibuat. Konsep pengambilan keputusan berbasis nilai kebajikan mengajarkan bahwa keputusan yang diambil harus mencerminkan nilai-nilai moral dan etika yang tinggi.

Seorang pemimpin yang mempelajari konsep ini akan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya mempertimbangkan nilai-nilai moral dan etika dalam pengambilan keputusan. Mereka akan memahami bahwa keputusan yang diambil harus sesuai dengan prinsip-prinsip moral dan etika yang dipegang oleh institusi yang dipimpin. Secara keseluruhan, mempelajari konsep pengambilan keputusan berbasis nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih bijaksana, etis, dan berkelanjutan untuk kebaikan organisasi atau masyarakat yang dipimpin.

 

14.  Pentingnya mempelajari topic modul 3.1 bagi saya sebagai seorang individu dan sebagai pemimpin.

Mempelajari pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sangat penting bagi seorang individu yang ingin menjadi pemimpin yang baik dan bertanggung jawab. Hal ini karena pengambilan keputusan yang berbasis nilai-nilai kebajikan dapat membantu individu tersebut untuk membuat keputusan yang tepat, sesuai dengan prinsip-prinsip moral, dan mengutamakan kepentingan semua pihak yang terlibat.

Bagi seorang pemimpin, mempelajari pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan bahkan lebih penting lagi. Pemimpin memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan arah dan tujuan institusi yang dipimpinnya. Oleh karena itu, pengambilan keputusan yang berbasis nilai-nilai kebajikan sangat diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut secara etis dan bertanggung jawab.

Kamis, 23 Maret 2023

 

Koneksi Antar Materi Modul 2.3

Coaching untuk Supervisi Akademik

 

Oleh :
Widodo

Guru SMP Negeri 1 Sidoharjo, Kab. Wonogiri

Calon Guru Penggerak Angkatan ke-7 Kab. Wonogiri

 

 

Seorang coach di sekolah memainkan peran yang sangat penting dan strategis dalam membantu murid dan rekan sejawat (guru lain) dalam mengembangkan dirinya sehingga  mencapai potensi terbaik mereka. Peran ini diharapkan dapat membawa perubahan strategis yang mampu menggerakkan komunitas sekolah sebagai bagian dari ekosistem sekolah. Perubahan strategis ini sejalan dengan semangat merdeka belajar untuk meningkatkan kualitas kurikulum (standar isi-standar proses-standar penilaian) yang bermakna dan kualitas sumber bdaya guru dan tenaga kependidikan dalam mewujudkan pendidikan yang berpuhak pada murid.

Materi pada pembelajaran modul 2.3 ini sejalan dengan filosifis pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD) dan perkembangan pendidikan abad ke-21. Paradigma berpikir Among, prinsip coaching, kompetensi inti coaching, alur percakapan TIRTA dan suoervisi akademik dengan paradogma berpikir coaching akan menguatkan guru sebagai pemimoin pembelajaran maupun kepala sekolah.

Berikut adalah beberapa peran seorang coach di sekolah dan bagaimana hal itu berkaitan dengan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosional, serta keterampilan coaching dan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran:

1.      Mendukung Pembelajaran Berdiferensiasi

Seorang coach di sekolah dapat membantu rekan sejawat (guru lain) dalam merancang dan mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi. Sebagai seorang ahli dalam strategi pembelajaran yang berbeda-beda untuk murid dengan kebutuhan belajar yang berbeda, coach dapat memberikan bimbingan kepada guru dalam membuat rencana pembelajaran yang memenuhi kebutuhan murid secara individual. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, murid dipandang sebagai individu unik yang belajar pada tingkat dan kebutuhan yang berbeda-beda, dan coach dapat membantu guru dalam menyesuaikan pembelajaran sehingga setiap murid dapat mencapai potensi belajarnya.

 

2.      Membantu Pembelajaran Sosial dan Emosional

Seorang coach di sekolah juga dapat membantu guru dalam memperkuat pembelajaran sosial dan emosional murid. Coach dapat membantu guru dalam merancang aktivitas yang dapat mengembangkan kompetensi sosial dan emosional seperti kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran social, keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Hal ini dapat membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menjadi individu yang lebih sadar diri, berempati, dan efektif dalam berkolaborasi baik dengan sesama murid maupun dengan guru dan seluruh warga sekolah.

 

3.      Keterampilan Coaching untuk Pengembangan Kompetensi sebagai Pemimpin Pembelajaran.

Seorang coach di sekolah juga dapat memainkan peran penting dalam pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran bagi guru dan tenaga kependidikan. Coach dapat memberikan pelatihan dan bimbingan kepada guru dan tenaga kependidikan dalam keterampilan coaching yang efektif sehingga mereka dapat memfasilitasi pengembangan diri sehingga menjadi lebih professional dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya.  Selain itu juga dapat mengembangkkan potensi rekan sejawat (guru lain) dan tenaga kependidikan. Dalam hal ini, coach berperan sebagai mentor dan pemimpin dalam membantu individu memperoleh keterampilan yang diperlukan untuk menjadi pemimpin pembelajaran yang efektif.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpukan bahwa, seorang coach di sekolah dapat memainkan peran penting dan strategis dalam pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosional. Selain itu, kompetensi  coaching juga dapat membantu rekan sejawat (guru lain) dan tenaga kependidikan dalam pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran yang efektif di sekolah.

Rabu, 09 November 2022

Jurnal Dwimingguan Paket Modul 1.1

 

Jurnal Dwimingguan Paket Modul 1.1

(20 Oktober -5 November 2022)

 

Salam Bahagia

Perkenalkan saya Widodo, guru IPA SMP Negeri 1 Sidoharjo, Wonogiri.  Saya merupakan salah satun peserta Pendidikan Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan ke-7 Kabupaten Wonogiri. Pada kesempatan membuat jurnal dwimingguan modul 1.1. Refleksi  Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara. Jurnal dwimingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh setiap calon guru penggerak. Tugas ini dibuat untuk merefleksikan semua pengalaman dan ilmu yang didapat selama dua minggu. Jurnal dwimingguan ini dibuat menggunakan model 4P yang merupakan terjemahan dari 4F yang dikembangkan  Dr. Roger Greenaway.

1.      Peristiwa (Fact)

Pada hari Kamis 20 Oktober 2022, saya mengikuti pembukaan Program Pendidikan Calon Guru Penggerak (PGP) angkatan ke-7 secara virtual oleh Mendikbudristekdikti Nadiem Anwar Makarim.  Kegiatan secara daring ini menggunakan platform Youtube dan Zoom Meet.  Dalam sambutannya Nadiem Makarim memberikan arahan agar Calon Guru Penggerak (CGP) fokus dalam mengikuti pendidikan guru penggerak dan harus bisa membagi waktu agar bisa mengerjakan modul di LMS. 

Kegiatan dilanjutkan pretest paket modul 1 yang dilaksanakan pada hari Jumat, 21 Oktober 2022 melalui LMS masing-masing. Dua hari kemudian, tepatnya pada hari Sabtu, 23 Oktober 2022 diadakan Lokakarya Orientasi secara luring di SMA Negeri 2 Wonogiri mulai pukul 08.0 s.d. 16.00 WIB. Kegiatan Lokakarya Orientasi diundang juga Pengawas, Kepala Sekolah dan para  CGP. Pada saat lokakarya orientasi saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman tentang pendidikan guru penggerak (PGP). Kemudian setelah itu mengikuti kegiatan secara online di LMS. Mulai dari diri sendiri saya merefleksi pemikiran KHD. Kemudian eksplorasi konesp bediskusi bersama fasilitator dan CGP lainnya mengenai filosofi KHD. Setelah itu, ruang kolaborasi saya bersama teman-teman saling berbagi pengalaman dan berdiskusi mengenai filosfi KHD dan penerapannya di sekolah. Terakhir mengiktui kegiatan elaborasi pemahaman bersama instruktur. Pada kesempatan ini  banyak ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan  instruktur dan teman-teman CGP lainnya.

 

 

2.      Perasaan (Feelings)

Saya merasa senang dan bangga pada saat mengikuti kegiatan di dua minggu pertama ini. Saya merasa senang karena saya bisa mendapatkan ilmu dan pengalaman tentang filosofi KHD dan berinteraksi dengan guru-guru hebat CGP Angkatan ke-7.  Selain itu juga mendapatkan Fasilitator dan Pengajar Praktik (PP) yang luar biasa, yaitu Ibu Yunidar dan Lilis Lia Arifiantai. Saat menerapkan filosofi KHD di dalam pembelajaran saya merasa senang karena ada hal yang berubah pada diri saya dan murid-murid saya. Sebagai contoh  dahulu saya banyak melakukan pembelajaran konvensional. Sekarang lebih berpusat pada siswa. Siswa merasa senang karena kebutuhan belajarnya terpenuhi. Semangat siswa untuk bersekolah semakin meningkat. Saya juga merasa bangga karena saya bisa menjadi bagian dari guru-guru hebat CGP di seluruh Indonesia. Sehingga banyak hal yang didapat dari materi ini.  Semoga saya bisa ikut serta menjadi bagian perubahan pendidikan Indonesia kea rah yang lebih baik.

3.      Pembelajaran (Finding)

Pengalaman berharga yang didapat yaitu ketika mendapatkan ilmu tentang filosofi pendidikan KHD dan saat berdiskusi dengan rekan CGP, Pengajar Praktik (PP), fasilitator dan instruktur. Banyak hal yang didapat untuk saya terapkan dalam pembelajaran di kelas saya. Pengalaman yang berharga yaitu mendapatkan imu tentang filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang sebelumnya belum pernah saya dapatkan.  Pemikiran KHD tersebut menyatakan bahwa tugas guru adalah menuntun anak sesuai dengan  kodratnya,  sehingga anak dapat hidup merdeka baik disekolah dan  di masyarakat.  Murid yang merdeka tanpa mengganggu kemerdekaan orang lain.   Pendidikan di Indonesia harus mempertimbangkan kodrat murid yaitu kodrat alam dan kodrat zaman. Selain  itu, KHD juga memiliki pemikiran  bahwa pendidikan harus menghamba pada anak Artinya pembelajaran harus berpusat pada murid. Murid sebagai pembelajar harus mendapatkan kesempatan utuk tumbuh secara utuh baik cipta, rasa, karsa dan karya sehingga menjadi manusia yang merdekan dan bijaksana Kegiatan pembelajaran harus bermakna dan menyenangkan dengan memperhatikan minat dan bakat serta potensi murid. Pendidikan yang memanusiakan. Pada saat berdiskusi dengan fasilitator, instruktur, dan rekan CGP saya banyak mendapatkan  pengalaman, ide dan gagasan yang sangat bermanfaat  dalam menerapkan filosofi KHD ini di sekolah saya.

4.      Penerapan ke depan (Future)

FiIlosofi pendidikan KHD yang saya dapatkan  selama 2 minggu ini akan saya terapkan dalam proses pembelajaran di sekolah.  Saya akan merencanakan merancang dan menyususn pembelajaran sesuai dengan kodrat anak (kodrat alam dan kodrat zaman). Saya akan berusaha agar menjadi guru yang bisa menuntun menjadi teladan, memberi kekuatan dan mendorong murid dalam menebalkan laku mereka. Pendidikan disesuaikan dengan kodrat zaman bahwasannya anak sekarang hidup di era digital, sehingga guru harus mengembangakn keterampilan abad 21 untuk menghadapi tantangan zaman ini. Ketermpilan abad 21 dapat dilaksanakan dengan pembelajaran memanfaatkan berbagai sumber yang ada dan menuntun murid tumbuh dan berkembang sesuai kodratnya.  Menjadi manusia yang cerdas pikirannya, halus budi bahasanya, dan sehat jiwa raganya. Berkembang dengan cipta, rasa, karsa dan karya.  Oleh karena itu saya sebagai guru akan menerapkan metode pembelajaran yang memfasilitasi perbedaan murid baik dari minat, bakat dan potensinya.  Saya harus harus mengetahui gaya belajar murid sehingga bisa menerapkan pembelajaran berdeferensiasi. Pembelajaran yang berpusat pada siswa dan disesuaikan dengan gaya belajar mereka. Hal yang akan saya lakukan untuk memfasilitasinya yaitu dengan menggunakan berbagai macam media pembelajaran sesuai dengan kebutuhan murid, menerapkan metode pembelajaran yang berpihak pada murid sebagai aktualisasi terhadap konsep “menghamba pada sang anak. 

Demikian jurnal dwimingguan saya setelah menyelesaikan modul 1.1 tentang “Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara. Semoga bermanfaat bagi saya dan pembaca yang budiman.

 

Salam Guru Penggerak

Guru Bergerak Indonesia Maju

Senin, 07 November 2022

Mulai dari Diri "Nilai Diri Guru Pembelajar" (Penugasan 1.2 A Nilai Diri dan Peran Guru Penggerak Modul 1.2)

 

Tugas MD 1. Refleksi

Gambar Trapesium Usia Calon Guru Penggerak

1.      Peristiwa Positif yang pernah saya alami dan masih sangat berkesan sampai sekarang adalah saat diberi kepercayaan mewakili SD saya dalam lomba PORSENI tingkat Kecamatan Jatipurna pada mata lomba “Baca Puisi Putra”.

Peristiwa negative yang pernah saya alami dan masih teringat sampai sekarang adalah saat saya duduk di bangku kelas 1 Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada saat itu saya mendapat hukuman karena terkambat mengikuti upacara bendera Hari Senin tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan alasannya.  Padahal saat itu saya terlambat karena rumah saya di pelosok desa dengan jarak 30 km dengan sarana transportasi yang sangat sulit.

2.      Selain saya yang terlibat dalam peristiwa tersebut adalah Parlan dan Wahyuni, keduanya teman SD saya.  Parlan mewakili lomba macapat dan Wahyuni mewakili lomba baca puisi putri. Selain itu Pak Sriyono sangat berperan pada peristiwa tersebut karena merupakan pembimbing sekaligus pendamping pada saat lomba.

Pada peristiwa di SMA saat terlambat mengikuti upacara ada beberapa teman yang mendapat hukuman diantaranya Kuspriyadi, Mardiyanto, Suwandi dan Tri Darwanto.  Orang lain yang terlibat adalah Bapak Dalimin selaku wakil kepala sekolah bidang Kesiswaan.

3.      Dampak Emosi yang saya rasakan yaitu gembira dan marah

4.      Peristiwa tersebut  masih dapat saya rasakan karena sangat berkesan dan bermakna bagi saya.

5.      Pelajaran hidup yang saya peroleh adalah memberikan kesempatan sekecil apapun kepada seorang murid akan sangat bermakna besar bagi mereka. Hal ini karena mereka mendapat kesempatan dan kepercayaan untuk menunjukkan minat dan bakatnya. Pelajaran yang kedua bahwa memberi kesempatan untuk membela diri merupakan hal yang sangat penting sebelum memberikan hukuman kepada murid.

6.      Nilai-nilai yang saya yakini sebagai seorang guru.

Peran guru sesungguhnya memberikan kesempatan belajar seluas-luasnya kepada murud untuk mengembangkan minat dan bakatnya sesuai dengan kodrat yang dimilikinya.

 

Tugas MD 2. Nilai dan Peran Guru Penggerak Menurut Saya

1.      Guru penggerak  adalah seorang yang menuntun  bukan menuntut. Guru sebagai penuntun sudah seharusnya dapat memberikan contoh dan teladan bagi muridnya dalam menjalani aktivitas belajar  di sekolah. Selain itu guru juga harus mendorong murid untuk mampu meraih masa depan yang cemerlang sesuai dengan kodrat mereka masing-masing. Untuk itu, sebagai tuntunan guru harus mampu menempatkan diri sebagai penuntun yang baik dan dapat dicontoh oleh murid. SEbagai calon guru penggerak saya harus menjadi pribadi yang baik yang bias menjadi contoh bagi teman sejawat maupun dalam komunitas MGMP, Jika belum mampu menuntun maka seorang guru harus mampu memperbaiki diri sepanjang waktu sehingga nantinya dapat menjadi guru yang benar-benar digugu lan di tiru. (dipercaya dan diikuti). Guru Penggerak harus bisa mengamalkan ajaran among “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” baik kepada murid ataupu kepada rekan guru yang lain serta orang-orang di sekitarnya

2.      Proses pencapaian keberhasilan murid di sekolah tidak lepas dari peran guru dan seluruh warga sekolah. Guru sebagai penuntun seharusnya dapatdapat mendorong murid agar dapat mewujudkan cita-cita sesuai dengan kodrat mereka. Dengan menjadi guru sebagai penuntun yang baik, dikemudian hari murid akan terkesan dan masih  mengingat dan merekam kejadian positif yang terjadi ketika mereka masih duduk di bangku sekolah, sehingga pada saat mereka dewasa nanti akan selalu teringat dengan peran guru tersebut. Guru akan terpatri di sanubari mereka, sebagai bagian yang memberikan pelita dan menebalkan laku mereka.

Bagi rekan guru dan komunitas MGMP saya berusaha menjadi contoh dengan melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh sekolah dan komunitas.  Bekerja sama tanpa membeda-bedakan suku, ras dan agama demi terwujudnya tujuan bersama.

Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara (1.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1)

 Salam dan Bahagia

Perkenalkan saya Widodo, Guru IPA SMP Negeri 1 Sidoharjo Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Saya adalah peserta Pendidikan  Calon Guru Penggerak Angkatan ke-7. Artikel ini merupakan penugasan modul 1.1.a.8 Koneksi Antar Materi-Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD)

Ki Hajar Dewantara (KHD) lahir di Yogjakarta pada tanggal 2 Mei 1889 dan wafat 26 April 1959 di Yogyakarta. Tanggal kelahiran beliau diperngati sebagai  Hari Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara (KHD) dijadikan sebagai Bapak Pendidikan Nasional karena meinggalkan warisan yang sangat berharga yaitu  pemikiran, konsepsi, keteladanan dan jiwa merdeka terkait dengan pendidikan dan pengajaran nasional. Beberapa pemikiran KHD antara lain :

1.      Dasar Pendidikan Adalah Menuntun

Menurut KHD tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat.  Oleh sebab itu, pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidunya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.  Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun.  Anak anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh petani di lahan yang telah disediakan.  Anak-anak itu bagaikan bulir padi yang ditanam.  Bila biji padi ditanam di lahan yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun  biji padi adalah biji yang kurang baik dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari petani.  Demikian sebaliknya , meskipun biji padi yang disemai berkualitas baik, namun tumbuh di lahan gersanng, tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta “tangan dingin” petani, maka biji tersebut mungkin tumbuh namun tidak optimal.  Dalam proses menuntun, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai “pamong” dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah  dan membahayakan dirinya.

2.      Kekuatan Sosio Kultural

Kekuatan sosio kultural menjadi proses “menebalkan” kekuatan kodrat anak yang masih samar-samar.  Pendidikan bertujuan untuk menuntun  (memfasilitasi/membantu) anak untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya.  Jadi anak bukan kertas kosong yang bias digambar sesuai keinginan orang dewasa.

3.      Kodrat Alam dan Kodrat Zaman

KHD menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman.  Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan dimana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama”.  Kodrat alam Indonesia memiliki dua musim (hujan dan kemarau) serta bentangan alam dari pesisir pantai hingga pegunungan memiliki keberagaman dalam memaknai dan menghayati hidup.  Demikian pula dengan zaman yang terus berkembang dinamis mempengaruhi cara pendidik menuntun murid.  KHD menegaskan didiklah anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam  dan jamannya.

4.      Budi Pekerti

Menurut KHD, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga.  Budi pekerti merupakan keselarasan (keseimbangan) hidup antara cipta, rasa, karsa dan karya.  Keselarasan hidup anak dilatih melalui  pemahaman kesadaran diri yang baik tentang kekuatan  dirinya agar mampu memiliki kesadaran social.

Sebelum saya mempelajari materi modul 1.1 Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara, saya merasa malakukan banyak sekali kesalahan baik berupa pemikiran  dan tindakan saya terhadap anak anak saya. Beberapa hal yang saya lakukan adalah :

1.      Pembelajaran berpusat pada guru.

Saya beranggapan bahwa sayalah satu-satunya sumber belajar bagi murid.  Kegiatann belajar lebih banyak dilakukan di dalam kelas tanpa pernah memberi suasana belajar yang menyenangkan di luar kelas..

2.      Guru belum memahami adanya perbedaan karakter dan potensi setiap murid sesuai kodrat yang dimilikinya. Selama ini saya memberikan tugas yang seragam kepada murid tanpa mempertimbangkan keragaman, kecerdasan, minat dan bakatnya. 

3.      Pembelajaran hanya berpedoman pada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang hanya mengembangkan aspek kognitif saja.

4.      Selama ini saya beraanggapan bahwa tugas utama seorang guru adalah mentransfer ilmu kepada murid.

5.      Memberikan pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban tertutup sehingga murid tidak diberikan kebebasan berpikir sesuai dengan ide dan gagasannya.

6.      Belum mengembangkan keterampilan abad 21 yang dikenal dengan 4C yaitu comunication, collaboration, critical thinking dan creativity.

7.      Kurangnya penanaman dan pengembangan budi pekerti..

Setelah saya mempelajari modul ini banyak hal yang harus berubah terkait dengan pemikiran dan perilaku saya, antara lain :

1.      Pola piker terkait Pembelajaran

2.      Pemahaman tentang karakter murid

3.      Pembelajaran yang menumbuhkan perkembangan afektif, kognitif dan psikomotor.

4.      Tugas utama seorang pendidik

5.      Cara memberikan pertanyaan kepada murid

6.      Pengembangan keteranpilan abad 21

7.      Penanaman budi pekerti

Upaya yang dapat saya harus segera saya lakukan agar pembelajaran di kelas mencerminkan pemikiran KHD antara lain :

1.      Melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada murid sesuai dengan tuntunak KHD yaitu “menghamba pada anak”.

2.      Memahami karakter murid dan memberikan ruang bagi tumbuh dan berkembangnya anak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya.

3.      Melaksanakan pembelajaran yang bertujuan untuk menumbuhkembangkan anak secara utuh baik cipta, rasa, karsa dan karya sehingga menjadi manusia seutuhnya.

4.      Merubah pola pikir, bahwa tugas utama seorang pendidik adalah menuntun segala kodrat pada anak agar mereka memperoleh keselamatan dan kebahagian yang setingi-tingginya baik sebagai individu maupun anggota masyarakat

5.      Memberikan pertanyaan yang terbuka sehingga murid memiliki kesempatan untuk menjawab sesuai dengan ide dan gagasannya

6.      Mengembangkan keterampilan abad 21

7.      Menumbuhkan budi pekerti  melalui kegiatan pembiasaan  seperti piket kelas, kerja kelompok, jumat bersih dan bakti social.  Penanaman budi pekerti juga dapat dilakukan dengan penguatan budaya religious seperti berdoa sebelum dan sesudah belajar, sholat berjamaah dan peringatan hari besar keagamaan. 

Semoga seluruh tahapan pendidikan calon guru penggerak angkatan ke-7 ini dapat saya ikuti dengan baik, sehingga saya dapat mengimplementasikan pemikiran KHD dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik serta turut serta dalam proses perubahan pendidikan di Indonesia.

 

Salam Guru Penggerak.

Guru Bergerak Indonesia Maju

Sabtu, 05 November 2022

Puisi "Kihajar Dewantara"

Salam dan Bahagia

Puisi ini merupakan pralambang atau metafora sebagai wujud kontekstual pemahaman saya terhadap pemikiran-pemikiran Ki Hajar dewantara.  Puisi karya saya ini dapat disaksikan pada tautan

https://www.youtube.com/watch?v=VqEkGa_JSa0&t=162s

Salam Guru Penggerak.

Guru Bergerak Indonesia Maju



Pemikiran Filosofis Ki Hajar Dewantara dalam Karya Puisi

 

KI HAJAR DEWANTARA

Karya : Widodo

 

Ki Hajar Dewantara

Kau rela tinggalkan kemewahan

Kau hidup dalam kesederhanaan

Kau kobarkan perjuangan

Kau berikan keteladanan

Kau wariskan samudera pemikiran

 

Ki Hajar Dewantara

Dengan pena engkau bangkitkan

Kau tumbuhkan jiwa pergerakan

Taman siswa engkau dirikan

Kau buka gerbang kemerdekaan

 

Ki Hajar Dewantara

Meskipun engkau telah medahului

Warisanmu kekal abadi

Pemikiran dan konsepsimu menjiwai

Keteladananmu selalu membumi

Jiwa merdekamu abadi dalam sanubari

 

Ki Hajar Dewantara

Kau bagai pelita

Cahayamu penerang gulita

Baktimu pada negeri tiada tara

Pengorbananmu  sangat bermakna

Semangatmu membara memupuk asa

Kaulah pahlawan pendidikan Indonesia

 

Ki Hajar Dewantara

Cita-citamu sungguh mulia

Anak Indonesia harus merdeka

Tumbuh dengan kodratnya

Bergerak sesuai orbitnya

Menjadi manusia yang bijaksana

 

Ki Hajar Dewantara

Cita-citamu sungguh mulia

Anak Indonesia harus tumbuh seutuhnya

Berkembang dengan cipta, rasa, karsa dan karya

Cerdas pikiran, halus budi bahasa,  sehat jiwa raganya

 

Ki Hajar Dewantara

Semboyanmu abadi

Ing ngarsa sung tuladha

Ing madya mangun karsa

Tut wuri handayani

Bekal diri menjadi pendidik sejati

Menuntun anak negeri

Mengapai keselamatan dan  kebahagiaan sejati

 

Wonogiri, 30 Oktober 2022