Kamis, 03 November 2022

Refleksi Diri Tentang Pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD)

 

Refleksi Kritis Terkait Pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD)

1. Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh pendidikan di Indonesia sekaligus “Bapak Pendidikan Nasional”.  KHD memiliki konsep pemikiran terkait pendidikan dan pengajaran yang tidak hanya tidak menitikberatkan pada kualitatif semata. Namun, lebih pada upaya meningkatkan kemerdekaan murid yang memiliki budi pekerti dalam belajar mengeksplorasi kompetensi diri sesuai latar belakang sosial dan emosional. Hal ini sesuai dengan tulisan KHD majalah “Wasita” Jilid II No. 1-2 Juli-Agustus tahun 1923, bahwa pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan tumbuh berkembangnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran dan tumbuh anak.  Agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya. Pendidikan harus mengutamakan :

a.       Segala alat, usaha dan cara pendidikan harus sesuai dengan kodratnya keadaan.

b.      Kodrat keadaan itu tersimpan dalam adat istiadat setiap rakyat.

c.       Adat istiadat, sebagai sifat perikehidupan atau sifat percampuran usaha dan daya upaya akan hidup tertib damai tidak luput dari pengaruh jaman dan tempat

d.      Akan mengetahui garis garis hidup yang tetap dari suatu bangsa maka kita perlu mempelajari jaman yang telah lalu, mengetahui tentang menjelmanya jaman itu ke dalam jaman sekarang dan menyelami jamannya yang berlaku kini, barulah kita dapat membayangkan jaman yang akan datang.

e.       Pengaruh baru diperoleh karena bercampurnya pergaulan bangsa yang satu dengan bangsa lainnya.

Terkait dengan pengajaran KHD memiliki pemikiran bahwa pengajaran  haruslah ditujukan kearah kecerdikan murid, selalu bertambahnya ilmu yang baefaedah, membiasakan mencari pengetahuan sendiri, mempergunakan pengetahuannya untuk keperluan umum. Pengajaran harus memerdekakan manusia atas hidupnya lahir, sedang merdekanya hidup batin terdapat dalam pendidikan.  Manusia merdeka yaitu manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung pasa orang lain, akan tetapi bersandat pada kekuatannya sendiri. Pengajaran dan pendidikan berguna untuk memerdekakan manusia sebagai bagian masyarakat.

2.      Pemikiran KHD sangat relevan dengan konteks pendidikan di Indonesia saat ini.  Pemikiran KHD sangat relevan dengan program “Merdeka Belajar” yang sedang digaungkan oleh pemerintah. Lahirnya program “Merdeka Belajar” berlandaskan pemikiran KHD Beberapa nilai yang sejalan diantaranya yaitu nilai keberpihakan pada murid. Secara khusus di sekolah saya yang sudah menerapkan kurikulum merdeka untuk kelas VII sudah memfasilitasi murid yang berasal dari latar belakang social kultural serta minat dan bakat yang berbeda. Penerapan projek penguatan profil pelajar pancasila (P5) merupakan upaya untuk menselaraskan antara pendidikan dan pengajaran dengan penghidupan dan kehidupan bangsa. Pengajaran berdasarkan kenasionalan sehingga murid-murid akan mempunyai rasa cinta terhadap bangsa dan negaranya 

 

3.    Beberapa tindakan yang telah saya laksanakan dalam menjalankan aktifitas sebagai guru saat pandemic covid-19 dan pembelajaran masih dilakukaan secara daring. Kondisi geografis kabupaten Wonogiri berupa pegunungan, berpengaruh pada keterlaksanaan pembelajaran daring. Tidak semua murid dapat mengikuti PJJ karena kendala signal internet.  Untuk mengatasi hal tersebut saya memfasilitasi murid agar dating ke sekolahan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Saya memberikan modul offline sebagai panduan belajar, membimbing kesulitan murid dalam belajar.   Namun demikian saya merasa belum sepenuhnya memiliki kemerdekaan dalam mengajar.  Saya masih terikat dengan Kompetensi Dasar yang harus dikuasai oleh murid, terbelenggu oleh KKM.. Akhirnya saya sambut dengan gembira “Kurikulum merdeka” yang sangat berpihak pada minat dan bakat murid. 

Kamis, 12 Mei 2016

Ujian Nasional Problematika dan Harapan

Hari ini 12 Mei 2016, Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) jenjang SMP telas selesai.  Setelah di awali secara bertahap dari jenjang SMA yang sudah terlaksana dengan “sukses” dengan segala problematikanya. Tanpa memungkiri berbagai modifikasi dan perbaikan yang telah dilakukan, UN tahun ini masih menyisakan tanya : Apakah pelaksanaan UN sudah berada pada arah yang benar dalam rangka peningkatan mutu pendidikan nasional ataukan hanya sekedar hajatan besar yang telah menjadi rutinitas ?

Berbagai kegiatan telah dimulai secara maraton sejak jutaan siswa peserta UN memasuki kelas XII SMA atau Kelas IX untuk jenjang SMP.  Pemadatan materi, Try out, motivasi secara spiritual bahkan pelatihan bagi guru-guru yang akan membimbing peserta didiknya dalam menghadapi UN telah dilakukan. Berbagai metode telah dilakukan masing-masing sekolah mulai dari jam belajar tambahan, home visit kepada kelompok-kelompok belajar dan penyediaan sarana prasarana yang menunjang.  Hal ini dilakukan demi sukses pelaksanaan dan sukses hasil UN, juga dalam rangka meningkatkan indek integritas dan kejujuran.

Ya...dalam jangka pendek memang sudah terlihat, seperti pada hasil UN di jenjang SMA yang sudah mengalami peningkatan dalam indek integritas dan kejujuran, kasus kebocoran soal sudah tidak terdengar lagi, kecurangan kecurangan sudah mulai tereduksi walaupun nilai rata-rata secara nasional menurun.  Hal ini mungkin disebabkan karena nilai UN saat ini bukan menjadi satu-satunya penentu kelulusan, sehingga sedikit menurunkan motivasi belajar siswa.  Semoga untuk jenjang SMP hasilnya menjadi lebih baik pada saat dimumkan nanti.

Bercermin dari problematika dalam penyelenggaraan UN, sebenarnya hal utama yang diharapkan dari proses pendidikan adalah perubahan mentalitas proses pembelajaran. Suasana pendidikan yang menjadi akrab dan menyenangkan karena antara konsep dan proses metodologis begitu baik diimplementasikan.  Dengan demikian UN apapun modelnya akan disambut gembira dan tidak lagi dianggap sebagai hantu yang sangat menakutkan.  Dalam hal ini proses pembelajaran diharapkan memberikan dorongan tidak hanya dilaksanakan di ruang kelas, tetapi juga di semua lini kehidupan.  Mulai dari rumah, jalan, lembaga publik, dan media masaa.  Apapun yang dilakukan akan menjadi indikator yang nilainya tidak kalah penting daripada UN di sekolah.  Sejatinya inilah yang diharapkan dari proses panjang pendidikan. Semoga proses pendidikan yang sudah dilaksanakan saat ini termasuk UN di dalamnya mampu merubah mentalitas anak-anak bangsa yang mampu bersaing dengan bangsa lain sehingga menjadi bangsa maju yang diperhitungkan pada saatnya nanti.

(Wonogiri, 15 Mei 2016)


SangPengajar.Com Pilihan Tepat Belajar Blog


Di era yang serba digital ini penulis merasa perlu memiliki suatu wadah yang efektif dalam rangka menampung dan mempublikasikan buah pikiran dan curahan hati sebagai wujud kecintaan terhadap bangsa indonesia khususnya dunia pendidikan.  Ditengah kegamangan penulis, tercetuslah untuk membuat sebuah “griya maya” sebagai wadahnya. Gayungpun bersambut sahabat-sahabat penulis di MGMP IPA juga punya ide yang sama. SangPengajar.Com lah solusinya. Bloger, trainer, penerima anugrah pendidikan 2015 sekaligus sahabat yang peduli menjadi pilihan penulis. Semoga kami bisa belajar menjadi bloger dan bisa mengembangkan kreatifitas pikiran, sebagai wujud kecintaan dan kebanggan terhadap negeri ini. 

Selamat Datang di Blog Dwijo Widodo

Blog ini merupakan “Griya Maya” berisi buah pikiran, curahan hati, karya pribadi maupun orang lain yang bermanfaat bagi dunia pendidikan, sebagai wujud kecintaan dan kebanggaan terhadap Bangsa Indonesia. Semoga bermanfaat.

Rabu, 21 Oktober 2015



Uji Kompetensi Guru 2015 untuk Pemetaan,
Bukan Pemotongan Tunjangan Profesi
Top of Form
Bottom of Form
Jakarta, Kemendikbud --- Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Sumarna Surapranata mengatakan, uji kompetensi guru (UKG) pada tahun 2015 dilakukan untuk melakukan pemetaan dalam rangka memperolehbaseline tentang kompetensi guru. Hal tersebut dikatakannya untuk menjawab salah satu tuntutan guru honorer yang menolak dilaksanakannya UKG jika hasilnya digunakan untuk melakukan pemotongan tunjangan profesi.
“Uji kompetensi guru ini untuk pemetaan, agar diperoleh baseline kompetensi guru,” ujarnya saat audiensi dengan guru honorer di kantor Kemenpan-RB, Jakarta, (15/9/2015).
Pria yang akrab dipanggil Pranata itu menambahkan, pada tanggal 9 sampai 27 November tahun 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama dengan dinas pendidikan dan sekolah akan melakukan uji kompetensi guru kepada 3.015.315 orang, termasuk guru honorer.
Ia mengatakan, selama ini Kemendikbud hanya memiliki potret UKG untuk 1,6 juta guru, yaitu guru yang sudah memiliki sertifikat dan yang akan disertifikasi. Potret tersebut diperoleh setelah guru-guru melalui uji kompetensi awal (UKA) dan uji kompetensi guru (UKG).
Pada uji kompetensi guru November nanti, tutur Pranata, baseline tentang kompetensi guru yang diperoleh akan digunakan sebagai bahan untuk melakukan peningkatan kompetensi secara berkelanjutan (diklat).
Terkait tuntutan penghapusan Kepmen tentang Petunjuk Teknis Tunjangan Profesi Guru (TPG), para guru honorer menilai Kepmen tersebut membuat guru swasta atau non-PNS tidak mendapatkan tunjangan profesi. Padahal guru swasta atau non-PNS di sekolah negeri yang sudah mendapatkan sertifikat pendidik sesuai dengan peruntukannya akan mendapatkan tunjangan profesi sepanjang yang bersangkutan memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.
“Tahun 2015 dialokasikan jumlah 282.895 guru swasta atau guru non-PNS dengan total anggaran Rp6.993 triliun,” katanya.
(Desliana Maulipaksi)
http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/4629

Selasa, 04 Februari 2014



MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR  SISWA SMP KELAS VIII
PADA MATERI FISIKA MELALUI MEDIA
PEMBELAJARAN ANIMASI

Yuniati Setyaningsih

(SMP Negeri 4 Jatisrono)

Abstrak : Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah melalui media pembelajaran animasi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII D SMP Negeri 4 Jatisrono. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran media pembelajaran animasi dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII D SMP Negeri 4 Jatisrono. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai dengan November  2013. Penelitian dilakukan di kelas 8D yang berjumlah 30 siswa . Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus dengan setiap siklus terdiri atas perencanaan  (planning), pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan, dan refleksi. Data yang diambil adalah prestasi belajar siswa melaui post test,  hasil observasi perilaku siswa dan observasi terhadap kinerja guru. Data yang diperoleh diolah dan dianalisis dengan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa media pembelajaran animasi dapat  meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII D SMP Negeri 4 Jatisrono. Dari data yang diperoleh, prestasi belajar siswa meningkat. Nilai rata-rata pada kondisi awal 63,00 dengan ketuntasan siswa sekelas 46,67 %. Pada siklus 1 diperoleh nilai rata-rata 70,50 dengan ketuntasan KKM mencapai 70,00 %. Terjadi kenaikan nilai rata-rata sebesar 7,50.  Dari keadaan awal ke siklus 1 terjadi peningkatan pada proses pembelajaran. Kemudian pada siklus 2 diperoleh nilai rata-rata 77,33 dengan ketuntasan KKM 90 %. Terjadi kenaikan nilai rata-rata sebesar 6,83.  Jika ditinjau dari keadaan awal sampai akhir penelitian terjadi kenaikan nilai rata-rata sebesar 14,33.

Kata kunci : Prestasi belajar, animasi.


ABSTRAK

Agata Margareti, S.Pd. 2013. “Peningkatan Hasil Belajar IPA Konsep Wujud Zat dan Perubahannya melalui Pembelajaran menggunakan Kartu Ajaib Acak pada Kelas VII C SMPN 1 Jatipurno semester gasal Tahun 2013 / 2014”.

Kata Kunci : Hasil Belajar IPA, Kartu Ajaib Acak

Menggunakan Kartu Ajaib Acak perlu diterapkan dan dikembangkan guru dengan terlebih dahulu menguasai strategi atau langkah-langkahnya. Penggunakan alat pembelajaran , termasuk penggunaan Kartu Ajaib Acak merupakan variasi guru dalam melaksanakan pembelajaran selain yang konvensional dalam bentuk ceramah. Kartu ini dapat digunakan untuk semua materi dalam pembelajaran IPA sebagai upaya peningkatan hasil belajar IPA. Berdasarkan hal tersebut selanjutnya ditetapkan judul penelitian ” Peningkatan Hasil Belajar IPA Konsep Wujud Zat dan Perubahannya melalui Pembelajaran menggunakan Kartu Ajaib Acak pada Kelas VII C SMPN 1 Jatipurno semester gasal Tahun 2013 / 2014”.

Tujuan penelitian yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPA Konsep Wujud Zat dan Perubahannya pada siswa kelas VII C SMPN 1 Jatipurno semester gasal Tahun 2013/2014 melalui pembelajaran menggunakan Kartu Ajaib Acak
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, dengan Teknik Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Instrumen pembelajaran, yaitu berupa RPP, tes objektif dan lembaran observasi. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIIC SMP Negeri 1 Jatipurno Wonogiri sebanyak 35 orang. Adapun langkah-langkah pemecahan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus yaitu siklus 1 tentang zat dan wujudnya serta massa jenis zat , siklus 2 tentang pemuaian dan kalor. Tiap siklus meliputi kegiatan: 1) perencanaan (planning), 2) pelaksanaan (acting), 3) observasi (observastion) dan evaluasi hasil pemantauan (monitoring), 4) refleksi (reflecting).. Teknik penelitian melalui teknik tes tertulis dengan analisisnya adalah hasil belajar siswa.

Hasil penelitian telah mampu menjawab perumusan masalah, mencapai tujuan penelitian dan membuktikan hipotesis  penelitian yaitu melalui pembelajaran menggunakan Kartu Ajaib Acak dapat meningkatkan hasil belajar IPA konsep Wujud Zat dan Perubahannya bagi siswa kelas VII C SMPN 1 Jatipurno semester gasal Tahun 2013 / 2014. Keadaan tersebut dibuktikan oleh hasil analisis data bahwa : Untuk hasil evaluasi siswa dari siklus I dan II mengalami peningkatan nilai rata-rata  hingga 12%, nilai tertinggi hingga 7%, nilai terendah hingga 12% dan ketuntasan belajar dari 34% menjadi 40%.